Belum Beredar, ML Dicekal di Bandung

BANDUNG – Film komedi terbaru ML (Mau Lagi) belum beredar di masyarakat. Namun, film tersebut sudah dicekal karena dianggap membawa pengaruh negatif.

Puluhan demonstran gabungan dari Gamais ITB, FSLDK Bandung Raya dan Kammi Komisariat ITB yang mengatasnamakan diri sebagai Aliansi Masyarakat Anti Film Porno, menggelar aksi teatrikal di depan Bandung Indah Plasa (BIP) mal, Jalan Merdeka, Bandung, Jumat (25/4/2008).

“Kami menuntut pihak berwenang tidak mengedarkan film ML di Indonesia. Film itu secara terang-terangan akan merusak pemikiran, khususnya generasi muda Indonesia dengan pembodohan intelektual,” kata Army, humas Aliansi Masyarakat Anti Film Porno.

Mereka menuntut pemutaran film yang berbau pornografi dihentikan. Meski dunia perfilman tanah air sudah mulai menggeliat, mereka menyayangkan belakangan ini film yang diputar di bioskop tidak memberikan konten yang sesuai dengan norma di masyarakat.

Selain menuntut pembatalan peredaran film ML, demonstran juga melayangkan 3 tuntutan lain. Dalam tuntutannya, mereka meminta agar produksi film yang merusak moralitas bangsa dengan tema takhayul, khurafat (sesuatu yang tidak jelas asal-usulnya, namun diikuti), seks, dan pornograpi dihentikan.

“Maraknya film-film nasional yang berbau takhayul seperti Kuntilanak, Skandal Cinta Babi Ngepet, Tali Pocong Perawan dan lain-lain, menjadi fenomena baru di masyarakat tetapi tidak mendidik dan mencerdaskan masyarakat,” tambah Army.

Kekhawatiran Army akan film berbau seks bisa merusak mental masyarakat, merujuk pada peristiwa pencabulan yang dilakukan dua anak berusia 14 tahun terhadap temannya sendiri.

“Setelah diselidiki, akhirnya mereka mengaku terinspirasi dari film porno yang sering mereka tonton. Akibat seperti itu jelas akan semakin meluas jika film-film penuh adegan ekspolitasi seks dan sejenisnya terus beredar dan diklaim dengan sebutan atas nama seni,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Edi Siswadi mengatakan, untuk mencapai kesuksesan, sebuah film tidak harus mengekspoitasi seks dan pornografi dalam pemutarannya.

“Kesuksesan film tidak hanya ditentukan dari unsur seks atau pornografi. Saya kira film dengan kualitas yang baik juga akan mencapai sukses meski tidak memasukkan unsur-unsur seperti tadi,” kata Edi di ruang kerjanya, komplek Pemkot Bandung, Jalan Wastukancana.

Dia mencontohkan, film Ayat-ayat Cinta sukses merajai pasaran film Indonesia dengan menampilkan kualitas cerita, tempat serta pendalaman karakter.

“Jadi tanpa menonjolkan sensualitas dan seks, bukan berarti film itu tidak akan sukses. Lihat saja film Ayat-ayat Cinta yang filmnya tidak ada unsur pornografi, bisa sukses,” paparnya.(lsi)(Irvan Christianto/Sindo/ang)
(Sumber: http://www.okezone.com)

Ditulis dalam News. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: