Titanic Karam Akibat Rivet Jelek

ANALISIS ahli metalurgi (logam) Amerika Serikat (AS) mengungkapkan, kapal Titanic tenggelam pada satu abad silam akibat dibangun menggunakan rivet (paku keling) berkualitas rendah.

Titanic tenggelam ketika menjalani pelayaran perdana pada 1912 di Atlantik Utara setelah menabrak gunung es. Lebih dari 1.500 orang tewas dalam insiden tersebut. Ahli metalurgi National Institute of Standards and Technology AS Timothy Foecke mengungkapkan, Titanic dibangun oleh galangan kapal Harland and Wolff di Irlandia Utara.

Harland and Wolff rupanya dituntut mampu membangun Titanic dalam waktu cepat dan dengan biaya murah. Ketika membangun Titanic, Harland and Wolff juga harus menyelesaikan pembangunan dua kapal besar yang lain. Untuk membangun kapal-kapal tersebut, Harland and Wolff membutuhkan jutaan unit rivet untuk menyambungkan lempengan-lempengan baja tubuh kapal.

“Karena dikejar deadline (tenggat waktu) sangat ketat, Harland and Wolff membeli rivet dari penyuplai yang bukan langganannya. Sebagian rivet tersebut ternyata memiliki kualitas rendah,” ujar Foecke, yang telah meneliti Titanic selama lebih dari sepuluh tahun. Foecke menuturkan, Harland and Wolff sesungguhnya mengetahui rivet yang digunakan untuk membangun Titanic memiliki kualitas lebih rendah daripada standar. Namun, Harland and Wolff tidak mengetahui bahwa kualitas rivet tersebut sangat jauh berada di bawah standar.

Karena rivet tersebut berkualitas sangat rendah, rivet-rivet itu pun rontok ketika lambung Titanic menghantam gunung es. Karena rivet-rivet itu jebol, lempengan-lempengan baja pada lambung Titanic pun menganga dan air laut masuk. Akibatnya, Titanic pun tenggelam dalam waktu kurang dari tiga jam setelah menabrak gunung es. Foecke memaparkan, teori penyebab tenggelamnya Titanic itu dalam buku berjudul What Really Sank the Titanic.

Foecke menulis buku itu setelah bertahun-tahun mempelajari arsip dokumen dan proses kerja pada galangan kapal Harland and Wolff. Foecke bahkan menguji kekuatan 48 buah rivet yang diambil langsung dari bangkai Titanic. Dari pengujian itu, Foecke mengetahui bahwa rivet Titanic memiliki tingkat kelonggaran 9 persen. Padahal, rivet standar untuk membangun kapal seharusnya memiliki tingkat kelonggaran antara 2 persen hingga 3 persen agar sambungan tidak mudah lepas. (sindo//mbs)

Ditulis dalam News. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: